Search This Blog

Wednesday, August 28, 2013

MEMILIH MENYELESAIKAN CINTANYA ATAUKAH LEBIH MEMILIH MENGAKHIRI CINTANYA?

Seseorang memiliki keinginan untuk memulai sebuah hubungan cinta, belum tentu karena sudah siap untuk menuju pada akad pernikahan. Bahkan cinta bagi para remaja banyak didorong dan disebabkan oleh nafsu cintanya belaka. Jadi cintanya bukanlah karena telah siap dan mampu menuju hidup berkeluarga (berumah tangga). Itulah sebabnya dari para remaja yang dilanda asmara (cinta), banyak dari mereka yang pada ujung cintanya lebih memilih “mengakhiri cintanya” sebelum terjadi akad pernikahan dari pada memilih “menyelesaikan cintanya”. Hal ini bukan masalah berani atau tidak berani terhadap resiko cinta, tetapi karena cinta merupakan kebutuhan biologis setiap manusia, dan bahwa nafsu birahi cinta bagi para remaja biasanya lebih mendominasi (menguasai) dirinya lebih dulu sebelum kemapanan dan kesiapan untuk masa depannya. Karena banyak dari para remaja yang kurang mampu menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya, dan banyak dari mereka yang tidak menyadari tentang kapan harus menyalurkan nafsu asmara (cinta)nya, maka janji-janji mereka terhadap pacarnya pada akhirnya merupakan janji-janji gombal dan palsu. Sebab cinta yang tulus dari seseorang akan bisa bertahan jika di dukung oleh kesiapan dan kemapanan untuk masa depannya, dan mampu menguasai hawa nafsunya untuk menjalani hidup di jalan yang diridhoi oleh Alloh. Di situlah letak cinta sejati untuk kekasih sejati, yakni cinta terhadap pacar, ataupun terhadap suami/istri. Sebagian remaja berfokus/terpusat pada meraih cita-cita dulu untuk kemapanan/ kesiapan masa depannya, sehingga belum begitu berfikir tentang cinta. Sebagian remaja ada pula yang meskipun belum siap masa depannya, mereka mengikuti nafsu birahi (gelombang asmara/ cinta)nya, sehingga cintanya banyak yang putus dan kandas di tengah jalan, bahkan banyak pula yang mengalami penuh derita hati yang parah dalam waktu lama. Maka itulah sebabnya para generasi muda dari kalangan cewek ataupun cowok harus menyadari tentang hal ini, sehingga tidak terperosok dan tidak terjebak dalam masalah cinta atau love. Beware a lot in matters of love. Kenapa para lovers dari kalangan para remaja banyak yang lebih memilih mengakhiri cintanya daripada menyelesaikan masalah lovenya? Jika terjadi problem dalam masalah cinta, solusinya tidak cukup seperti kalau kita lapar dan menyanding makanan kemudian kita bisa langsung makan. Tetapi menyangkaut banyak personal sense (rasa pribadi), tingkat sosial ekonomi, dan lain-lain yang bisa jadi tidak etis kalau diungkap. Tidaklah mudah juga bagi kita mengubah seseorang yang berwatak keras, mudah emosi, mudah tersinggung, dan sebagainya, menjadi orang yang sesuai dengan yang kita inginkan. Itulah sebabnya persoalan cinta ataupun putus cinta kadang-kadang bisa diselesaikan, dan biasa juga merupakan problem berat yang sulit teratasi serta memunculkan derita hati yang lama dan hidup penuh frutrasi (putus asa) bagi pelakunya karena sulit teratasi penyembuhannya. Karena cinta yang tidak tulus untuk menuju ke jenjang pernikahan dan penuh janji-janji gombal dan palsu, akibat belum mapan dan belum siap untuk masa depannya, sehingga cinta remaja kebanyakan putus dan kandas di tengah jalan, meskipun di satu pihak memilih tetap mencintainya sampai mati karena cintanya kepada pacarnya juga sampai setengah mati, alias cinta berat. Dan sebaliknya di pihak yang satunya barangkali berfikir, bahwa akan lebih banyak efek (pengaruh) positivenya jika mengakhiri cintanya dari pada mempertahankan cintanya. Para remaja banyak yang melakukan putus cinta (mengakhiri cinta)nya. Putus cinta (mengakhiri cinta) yang dilakukan oleh para remaja adalah karena banyak hal, dan bisa juga harus mengakhiri cintanya karena terpaksa. Bisa jadi mereka lebih memilih mengakhiri cintanya karena merupakan jalan terbaik dari pada mempertahankan cintanya yang barang mereka berfikir, bahwa kalau cinta mereka yang telah mengalami banyak problem dipertahankan, maka akan lebih banyak efek atau pengaruh negative yang akan mengenai dirinya. Sehingga mereka bertekad bulat untuk mengakhiri cintanya. Walaupun teori mengatakan, bahwa senang, sedih dan susah telah mereka sepakati akan disangga/ ditopang/ dipanggul/ dipikul bersama di antara both lovers yang saling bercinta. Tetapi dalam kenyataanya, jika cinta tersebut disebabkan karena nafsu syahwat cintanya dan masih jauh dari mengarah kepada ikatan pernikahan, maka banyak dari mereka yang mengingkarinya atau berkhiyanat walaupun sebetulnya tidak berniat untuk mengkhiyanatinya. Otomatis termasuk mengingkari janji-janji yang diucapkannya. Bahkan ditinjau dari segi religi, bisa jadi lebih baik meninggalkannya dan memilih mengakhiri cintanya bagi salah satu pihak dari lovers tertentu tersebut kalau dia memang telah menyadari bahwa cinta yang sedang dia jalani adalah bukan true love. Atau bahkan mungkin juga karena salah satunya melihat di sekelilingnya ada cewek cantik /cowok tampan yang lebih perhatian dan lebih baik tingkah lakunya, Sehingga mungkin lebih memilih ganti pacar baru yang lebih baik, dan bisa juga lebih memilih mengakhiri cintanya untuk lebih berorientasi pada cita-cita tinggi demi menggapai masa depan yang lebih baik dari yang dialaminya. Itulah keunikan tentang cinta (love). Beware a lot in matters of love.

No comments: